Thursday, January 10, 2008

Mendaku Kebenaran Mutlak

05/02/2007

Seorang khatib, Jum’at itu “menyihir” jemaahnya. Dengan yakin, dia menegaskan bahwa krisis banyak segi yang dialami bangsa ini, akan impas kalau kita mengamalkan sebuah hadits. Di antara penggalan hadis yang dia sebutkan adalah soal ‘adâlat al-hukkâm (keadilan para penguasa), amânat al-tujjâr (kejujuran para pebisnis), dan washiyyat al-ulamâ’ (kegemaran mendengarkan petuah para ulama dan cerdik cendikia).

Khatib itu lalu bicara panjang lebar tentang banyak hal: ilmu, budaya, politik, ekonomi, dan etika. Tak ada yang salah dari khutbah yang saya rasa dangkal tapi melebar itu, kecuali simplifikasinya yang berlebihan. Saya melihat banyak sekali jemaah yang “terbius” saat itu.

Tapi rupanya, seorang jemaah di samping saya tak tahan untuk tidak menggerutu. Dia tak “terbius” oleh petuah sang khatib. Menurut hadis, salat Jum’atnya tentu laghâ (sia-sia), karena sudah bercakap-cakap, bahkan menggerutu saat khatib sedang menyampaikan pesan-pesan takwa. Saya tak tahu, siapa yang akan memikul dosa kesia-siaan itu: jemaah itu atau khatib yang “kaya ilmu” tadi.

Peristiwa itu menyisakan kegelisahan dalam diri saya seusai salat Jumat. Ada permasalahan mendasar yang dihadapi juru dakwah kita pada umumnya. Dalam kasus tadi, masalahnya berbentuk simplifikasi atau menggampang-gampangkan permasalahan yang sebetulnya tidak gampang. Sebatas itu, mungkin masih bisa dimaklumi.

Yang paling parah adalah lanjutan dari simplifikasi itu: perasaan telah mendaku kebenaran mutlak saat mendiagnosis dan memberi solusi atas problem-problem sosial-kemasyarakatan. Betul, sang khatib mungkin berniat baik dan merasa telah menunaikan tugas untuk menyampaikan pesan-pesan yang luhur. Hanya saja, dia lupa bahwa kenyataan hidup lebih rumit dari yang dia bayangkan. Dia telah terjebak dalam kemutlakan. Karena itu, wajar bila jemaah di samping saya kesal akan “kepintaran” sang khatib.

Kita tahu, dalam Islam ada anjuran untuk selalu berburu kebenaran. Dalam sebuah hadis, bahkan Nabi menyebut bahwa kebenaran/wisdom/kebijaksanaan sebagai barang tercecer (dlâllat) yang perlu dipungut setiap Muslim. Dalam konsep Islam, pemilik kebenaran mutlak hanyalah Tuhan semata. Karena itu, dalam bahasa Arab, Tuhan sering juga disebut al-Haqq: Yang Mahabenar, kalau bukan kebenaran itu sendiri.

Sementara manusia, paling banter hanya sampai pada percikan-percikan kebenaran. Namun, itu bukan berarti manusia tak akan pernah sampai pada kebenaran sama sekali. Mungkin sekali manusia sampai pada kebenaran, tapi kebenaran yang dicapai manusia adalah kebenaran yang nisbi, bukan kebenaran yang mutlak.

Hemat saya, kebenaran yang nisbi itu lebih baik bagi pengelolaan hidup manusia yang beradab karena dapat didiskusikan, diinterupsi, dievaluasi, dan dikoreksi.

Tapi dalam kenyataannya, manusia selalu punya kepentingan untuk mendaku kebenaran mutlak Tuhan dengan pelbagai motifnya. Dalam masyarakat yang taat beragama, itu berfungsi agar orang taat juga pada mereka yang mendaku kebenaran Tuhan tadi.

Tapi bagi saya, jika ada manusia yang berkata telah sampai pada kebenaran mutlak, sesungguhnya dia sedang berbohong. Sebab, filosof-filosof besar sekalipun hanya menyebut diri mereka sebagai muhibbul hikmah alias pencinta kebenaran, bukan pemilik kebenaran. Sang khatib tadi mungkin lupa atau akan hal itu.[Novriantoni]

No comments: